Banda Aceh, 13 Desember 2025 – Sebagai respons cepat terhadap dampak psikologis pascabencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Provinsi Aceh, Balai Guru dan Tenaga Kependidikan (BGTK) Provinsi Aceh secara resmi membuka kegiatan Pendampingan Pemulihan Psikososial dan Penguatan Resiliensi (Trauma Healing) Bagi Tenaga Pendidik. Program ini dibuka langsung oleh Kepala BGTK Aceh, Muhammadi, S.Kom. M.Si., pada Rabu, 13 Desember 2025 di Hotel Grand Permata Hati, Banda Aceh.
Langkah ini diambil mengingat tenaga pendidik memiliki peran ganda yang rentan dalam situasi pascabencana: sebagai penyintas yang terdampak secara pribadi, sekaligus sebagai garda terdepan dalam memulihkan kondisi mental siswa di sekolah.
Dalam sambutan pembukaannya, Kepala BGTK Aceh mengakui bahwa upaya pemulihan pascabencana dihadapkan pada tantangan yang tidak ringan.
“Kami paham betul bahwa kondisi di lapangan masih sangat sulit. Akses jalan yang rusak dan lokasi yang susah dijangkau menjadi tantangan besar bagi kami dalam menyalurkan bantuan. Namun, hal itu tidak akan menyurutkan semangat kami. Kami akan terus berusaha sekuat tenaga menembus hambatan tersebut” ujar Muhammadi.
Lebih lanjut, beliau menegaskan bahwa kegiatan ini dirancang secara khusus sebagai ruang pemulihan mental, bukan sekadar pelatihan teknis.
“Kegiatan ini kami juga adakan agar Bapak dan Ibu bisa beristirahat sejenak. Gunakan kesempatan ini untuk menenangkan diri dan melupakan rasa lelah akibat musibah yang baru saja terjadi.” tegasnya di hadapan para peserta.
Program yang berlangsung selama 5 hari ini diikuti oleh 60 Guru dari area terdampak. Guna memastikan kualitas pendampingan, BGTK Aceh menggandeng tim ahli yang terdiri dari Psikolog (Fakultas Kedokteran) dan Dosen FKIP (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan) Universitas Syiah Kuala untuk memberikan materi serta intervensi yang relevan.
Materi yang diberikan dirancang secara komprehensif untuk menjawab kebutuhan spesifik pendidik di daerah bencana, meliputi:
- Kesehatan mental dan psikologis penyintas bencana: Memberikan pemahaman mendasar mengenai dampak psikologis yang wajar terjadi pasca kejadian traumatis.
- Identifikasi permasalahan penyintas bencana dalam fungsi dan tugas sebagai pendidik: Memetakan tantangan spesifik yang dihadapi guru saat harus kembali mengajar dalam kondisi krisis.
- Manajemen stres dan teknik self care: Melatih peserta melakukan perawatan diri mandiri untuk menjaga stabilitas emosi.
- Kemampuan resiliensi sebagai tenaga pendidik: Menguatkan daya lenting guru agar mampu bangkit dan beradaptasi dengan situasi baru.
- PFA (Psychological First Aid) dan mekanisme rujukan: Membekali guru dengan keterampilan Pertolongan Pertama Psikologis serta pemahaman kapan harus merujuk kasus siswa atau rekan ke tenaga profesional.
Berdasarkan asesmen awal di lapangan, banyak tenaga pendidik mengalami gejala burnout dan kecemasan akan bencana susulan. Program ini diharapkan dapat memitigasi risiko gangguan stres pascatrauma yang dapat menghambat proses belajar mengajar.
Secara umum, kegiatan ini diharapkan dapat menjadi titik balik pemulihan sektor pendidikan di wilayah terdampak. Dengan pulihnya stabilitas emosi para tenaga pendidik, diharapkan proses belajar mengajar dapat segera berjalan normal kembali dalam suasana yang aman dan kondusif. Para peserta tidak hanya diharapkan pulih secara pribadi, namun juga mampu bertransformasi menjadi agen dukungan psikososial di sekolah masing-masing, memberikan rasa aman, serta mendampingi siswa yang juga mengalami trauma serupa untuk bangkit bersama.
#KemendikdasmenRAMAH
#PendidikanBermutuUntukSemua





Butuh peralatan sekolah dan sembako